Social Icons

Sunday, January 20, 2013

Di Balik Skenario Anyaman Boboko Majalengka

Oleh Larissa Huda

Alun-Alun Desa Trajaya.
Doc. LKM UNJ 2012
SUDAH LIMA HARI kami di sini, dan akhirnya semua berujung tangis haru. Astri, yang sudah lima hari kami panggil Teh Astri, pipinya sudah basah dengan air mata. Dan kami semua benar-benar hanyut dalam suasana haru.

Tak lama kemudian muncul Mamih dari ambang pintu ruang tamu depan setelah lama kami menunggu beliau sebelum Pak Syafa’at memberikan kata penutup melepas kepulangan kami.

Benar saja, tangisan Mamih ikut pecah. Sesenggukan suara Mamih, begitu kami memanggil nenek kandung dari Teh Astri, yang benar-benar merasa kehilangan. Mantan Kuwu ini bisa dibilang orang yang paling kehilangan atas kepergian kami yang terbilang singkat, kami menumpang di rumah beliau hanya lima hari.
Suaranya gamang, sedangkan air mata Mamih tak juga mau berhenti. Sangat bertolak belakang saat keluraga Mamih pertama kali menyambut kedatangan kami. Mungkin keheningan akan menjadi kawan baik keluarga ini setelah kepergian kami.

“Rumah ini akan seperti ditinggal mati penghuninya lagi,” ucap Mamih.


Lima hari terakhir, kedatangan kami sejak Selasa sore (3/07), rumah ini mendadak ramai. Sebelum kedatangan kami, rumah yang terbilang sangat luas ini hanya dihuni oleh lima orang anggota keluarga –dengan Mamih sebagai sosok tertua.

Teh Astri, cucu dari Mamih, sudah lama menikah dengan Pak Syafa’at yang kini menduduki jabatan sebagai Ulis (Juru tulis, panggilan untuk seorang Sekretaris Desa) sekaligus Kepala Keuangan Desa. Dua jabatan sekaligus –hal ini dikarenakan kurang jumlah aparat Desa yang mampu mengisi posisi tersebut. Dari hasil pernikahannya lahir seorang anak laki-laki yang kami panggil Dek Eki –Barqi. Keluarga kecil itu tinggal bersama Mamih. Beruntung, Teh Uci sudah menyelesaikan studinya di Universitas Soedirman, paling tidak penghuni rumah ini bertambah satu.

Keluarga ini bisa dibilang pelumas lancarnya kegiatan kami selama di Desa Trajaya, Kebupaten Majalengka, Jawa Barat. Bantuan dan kebaikan keluarga Mamih bisa dibilang tidak sedikit perannya dalam penggrapan serta penelusuran desa penghasil boboko ini.

Rumah Mamih terkadang menjadi patokan jika ada tamu yang hendak mampir ke Desa Trajaya karena strategis. Pasalnya rumah ini terletak pesis sekali dibelakang –dan di samping balai (kantor) dan alun-alun desa. Dengan tembok cat berwarna campuran merah bata dan merah marun, rumah ini dapat dengan mudah ditemukan.

Sebelum memasuki rumah Mamih, kita akan disapa dengan perkarangan rumah yang sangat luas –yang bisa saja sangat jarang kita temukan di Jakarta. Mamih menanaminya dengan berbagai macam bunga serta tanaman buah dan obat. Sangat rapi dan necis.

Sepertinya rumah ini sengaja dirancang untuk menampung banyak tamu. Begitu luasnya, lima orang penghuni rumah ini bisa menenggelamkan suara-suara penghuninya, termasuk suara Eki yang sesekali merengek memanggil ibunya, Teh Astri.

Dua ruang tamu, empat sampai lima kamar yang cukup luas, satu ruang kerja, belum lagi beranda belakang yang bisa dijadikan tempat mencari angin atau sekedar bincang-bicang jika senja tiba. Dan satu lagi dapur yang sangat cocok jika dijadikan pusat memasak jika hajatan tiba.

Sore itu, setelah penyambutan kedatangan, kami langsung ditawari untuk tinggal di rumah itu beberapa hari selama kami mencari data di desa tersebut. Satu kamar sangat cukup menampung hingga sepuluh orang dari kami –Saya (Larissa), Nadia, Hilda selaku pendamping perjalanan ini, serta tujuh perempuan orang lainnya sebagai penulis –Suci, Nada, Tia, Ida, Tyas, Indah, dan Pippi.

Sedangkan laki-laki disediakan tempat penginapan di balai kesehatan desa, kami menyebutnya Posyandu, cukup untuk lima orang laki-laki, Rianto dan Ghozi selaku pendamping, dan tiga orang laki-laki lainnya sebagai penulis –Agus, Khambali, dan Pria.

Penelusuran ini juga menjadi lebih mudah mengingat posisi Pak Syafa’at di Desa adalah sebagai Sekretaris Desa sekaligus Kepala Keuangan. Serta Mamih yang dua periode lalu –sekitar lebih dari 15 tahun lamanya berturut-turut telah menjadi Kepala Desa terpilih. Atas perannya, kami terbantu untuk mengingat nama, letak rumah, atau sekedar cerita narasumber ketika masih kanak-kanak.

Mamih sendiri memiliki nama asli Hj. Ihat Muslihat. Pada Tanggal 19 Desember 1992 Mamih untuk pertama kalinya terpilih menjadi Kuwu. Pada tahun 1996, beliau berhasil merehabilitasi Masjid Jami Al–Islah yang berada di samping balai desa dan menanam kembali pohon beringin pada tanggal 17 Agustus 1997 yang sempat tumbang.

Banyak prestasi yang didulang Mamih selama masa jabatannya, hingga pada tanggal 13 Desember 2001, diadakan pemilihan Kuwu, Mamih terpilih lagi untuk kedua kalinya dan dapat membangun pendopo Balai Desa Trajaya.

Kami harus pamit pulang. Telepon seluler sempat bergetar. Ternyata sebuah pesan singkat dikirim saat kami masih perjalanan menuju Jakarta, dari Pa Syafa’at.

Selamat jalan ya teman-teman. Kehadiran kalian membuat saya khususnya mendapat adik baru lagi. Semoga desa kami memberi manfaat bagi teman-teman. Salam untuk semua, jangan lupa mampir ke sini lagi.

***

SUATU MALAM PADA tanggal 24 Mei 2012, kami akhirnya sepakat bahwa Desa Trajaya akan menjadi titik lokasi dimana Tim Kreatis –sebuah program penulisan di LKM UNJ, akronim dari Kreatif-Kritis, akan melakukan penelitian. Beberapa hari sebelumya kami masih memperdebatkan lokasi penelitian antara Desa Trajaya atau lokasi Candi Jiwa di daerah Rengasdengklok.

Rancangan yang Sempat Disusun sebelum Keberangkatan

“Saya setuju ke Trajaya,” suara voting terakhir yang diucapkan oleh Khambali.

Sederetan agenda telah disusun dan disepakati. Setelah beberapa bulan terakhir berdiskusi terkait persiapan penelitian, mulai keesokkan malamnya sepakat akan kami jadikan sebagai diskusi outline tulisan sebelum keberangkatan ke Desa Trajaya.

Masing-masing mengambil topik yang berbeda antar penulis. Saya hanya mengamati, sesekali mencatat, dan ikut berdiskusi dengan ide yang mereka keluarkan. Terkadang diskusi ini akan selesai hingga dini hari.
Biasanya kami akan mengambil hari Jum’at jika harus menyelesaikan diskusi hingga pagi buta.

“Di sini kita tak mementingkan analisis sosial yang begitu kental, mengingat output dari tulisan ini adalah tulisan bergaya feature –bertutur,” ujar Rianto suatu malam.

Gaya tulisan feature –bertutur memang sudah lama menjadi ciri khas lembaga ini. Beberapa karya yang lahir dari LKM UNJ cenderung bernafas feature. Begitupun juga penelitian kali ini.

“Kita mencoba mencari gejala-gejala yang timbul dari tema yang teman-teman angkat, hapus semua gejala yang tidak ada kaitannya sama sekali,” tambah Rianto.

Rianto sendiri adalah ketua Lembaga Kajian Mahasiswa Universitas Negeri Jakarta periode 2011/2012 –yang seterus nya akan disingkat dengan LKM UNJ- yang mempunyai andil sangat besar dalam proyek tulisan kali ini. Minatnya yang begitu besar terhadap masa depan penulisan lembaga kami, membuatnya begitu kekeuh untuk membagi ilmunya. Sebelumnya ia juga ikut dalam proyek tulisan sama, “Menata Modernitas Kota” di daerah kepulauan seribu.

Belasan malam menjelang keberangkatan kami ke Desa Trajaya terpaksa meninggalkan tanda hitam di bawah kelopak mata. Rancangan tulisan ini harus dipersiapkan sangat matang. Mengingat jarak Jakarta-Majalengka tidaklah dekat. Melalui jalur bus, kita bisa menghabiskan waktu lebih dari sepuluh jam perjalanan. Akan sangat sulit jika ada bagian bagian mentah yang terpaksa kami bawa ke Desa penghasil boboko tersebut. Akan berakibat fatal.

***

HINGGA TANGGAL 1 JUNI 2012, Rianto masih menagih fokus masalah dari penulis yang masih belum beres. Beberapa dari penulis ada yang kecewa karena harus menerima kritik pedas hingga penolakan atas fokus masalah yang telah mereka ajukan. Dan terpaksa mengganti fokus mereka dalam waktu singkat.

Kegiatan Diskusi Rutin di Sekretariat LKM UNJ

Kami biasa duduk melingkar di atas lantai keramik putih ruang sekretariat kami. Separangkat LCD dan laptop menjadi alat yang sangat membantu dalam proses penyusunan rancangan tulisan. Kali ini mungkin lampu tak cukup membantu, karena pantulan dari pancaran proyektor akan saling saing.

Tiba giliran Suryaningtyas –salah satu dari penulis mau tidak mau harus berseteru dengan Rianto dan saya. Terkadang juga akan ditanggapi oleh Ghozi, dan Lutfy. Wataknya yang keras kepala membuatnya sulit terbuka dengan masukan orang lain.

“Kamu akan kesulitan jika mengangkat permasalahan persaingan pasar!” ujar Rianto.

Sudah beberapa malam, Tyas –begitu kami menyebutnya masih saja memakai fokus masalah yang masih mengambang.

“Itu akan sulit bagi kamu, dengan logat bahasa daerah yang belum tentu kamu mengerti ditambah lagi jika kamu mendapati narasumber yang tertutup soal pola dagang mereka, jatuhnya hanya akan jadi gossip,” tambah saya yang sudah mulai gemas.

Tak hanya diam, Tyas, beberapa kali melakukan penguatan akan rancangan kerja yang telah ia sampaikan malam itu. Tak jarang juga akhirnya ia bergeming hingga mengamini masukan dari Rianto, saya serta kawan lainnya.

Beda Tyas, beda juga dengan Ida. Wanita berkaca mata ini tampak yakin dengan rancangan tulisannya. Ia begitu rinci dan detail menjelaskan gejala-gejala hipotesanya. Hingga akhirnya ia menyadari ada bagian-bagian yang harus diseleksi lagi secara teliti.

“Fokus kamu terlalu melebar, kita tak bisa membahas ini semua dalam satu tulisan,” ujar Rianto malam itu.
Pada rancangannya ia menggabungkan seluruh aspek ekonomi dan pendidikan dalam induk kondisi pendidikan anak pengrajin di Trajaya. Yang nyatanya ini tidak akan membantu apa-apa. Beruntungnya, Ida yang saat itu menyandarkan tulang punggungnya pada tembok, langsung segera memperbaiki posisi duduknya, dan mencatat apa saja perbaikan yang akan diharapkan menjadi bekal saat berangkat ke Trajaya nanti. Ia cukup terbuka akan hal ini.

Pembuatan rancangan tulisan –atau kami sering menyebutnya outline, memang menjadi sebuah fundamental dalam pembuatan tulisan ini. Bagi mereka yang akhirnya memutuskan tidak sanggup mau tidak mau harus menerima konsekuensi. Lebih bekerja keras atau mundur.

Terlambat makan, kurang tidur, energi dan pikiran yang terkuras, ini bukan perkara demi berapa jumlah karakter dalam tulisan yang harus dipenuhi, tapi bagaimana kami sangat menghargai sebuah proses. Dan kami bersama-sama sudah sepakat akan hal itu.

***

‘LKM GOES TO Majalengka 2-7 Juli 2012’ sebuah tulisan yang saya temukan dalam buku catatan saya, tertanggal 15 Juni 2012. Buku setebal hampir dua sentimeter itu telah banyak merekam semua peristiwa sebelum kami betul-betul singgah di desa Trajaya sebagai tamu. Tulisan tangan itu terlihat begitu yakin dan tegas. Yang membuat saya semakin optimis.

Buku itu berwarna hijau dengan motif kotak-kotak. Ke mana pun saya pergi pasti selalu ada di dalam tas. Lebih mirip buku catatan penglaris pedagang atau tukang kridit, namun atas kesahajaannya buku ini telah meninggalkan jejak bagaimana kami mengolah rancangan kegiatan KREATIS ini.

Buku Catatan Pribadi Saya

Pada halaman yang sama, tertanggal 14 Juni 2012, seluruh penulis mulai meyusun rangkaian tulisan berupa lead, alur cerita, dan tokoh dalam cerita. Pada saat itu juga kami sepakat akan mengunjungi Desa Trajaya untuk sekedar survei lokasi pada tanggal 23 Juni 2012 mendatang saat itu. Saya memutuskan untuk ikut serta dalam penjelajahan ini, bersama Agus dan Rianto –saya satu-satunya perempuan di situ.

Survei sebetulnya telah dirancang sebagai agenda wajib. Walaupun desa telah akrab bagi Rianto –karena beliau pernah menghabiskan masa kanak-kanaknya di sini, agenda ini tidak serta-merta disepelekan begitu saja. Mengingat, penulis harus mempunyai gambaran yang jelas terhadap desa yang kami sendiri belum pernah mengunjunginya.

Semua penulis harus menitipkan bekal, berupa pertanyaan guna mendukung hipotesis yang ada. Satu hal yang patut dipegang menjelang keberangkatan, setiap percakapan adalah data. Data adalah sebuah nyawa dalam penelitian ini.

Saya dan Agus akan berangkat dari Jakarta sekitar pukul tujuh pagi. Hal ini dimaksudkan agar kami sampai di desa Trajaya tidak terlalu larut malam. Namun, karena satu dan lain hal akhirnya molor dua jam. Saya dan Agus sepakat bertemu dengan Rianto di terminal Cikarang. Dengan bekal informasi seadanya lewat pesan singkat, kami meraba jalan untuk sampai Cikarang. Dengan rute Rawamangun-Cawang-Terminal Bus Cikarang.

Selama perjalanan, saya berusaha mengingat rute selama perjalanan menuju Desa Trajaya. Karena untuk hari selanjutnya ketika rombongan penelitian datang, Rianto tidak akan menunggu lagi di Cikarang. Beliau langsung menunggu di Desa Trajaya, Majalengka.

Perjalanan untuk survei nyaris berjalan lancar, hingga akhirnya pada bus kedua arah Cikarang, P9BA, harus mengalami ban pecah. Beberapa menit kami duduk di dalam bus tanpa harapan bahwa bus ini akan mengantarkan kami hingga tujuan akhir, terminal bus Cikarang. Tapi hal itu bisa teratasi dengan akses angkutan umum yang berukuran tanggung berwarna merah menjadi alternatif.

Terminal bus Cikarang ini mirip seperti terminal bus yang ada di Jakarta. Yang agak berbeda, baru saja tiba kami akan dihampiri beberapa orang yang menawari berbagai bus jurusan antar kota. Biasanya ia akan melontarkan pertanyaan terlebih dahulu. Jika menyebut salah suatu tujuan, dengan mudah ia mengajak Anda untuk menuju bus yang sesuai.

“Neng, mau ke mana? Purwokerto, Tegal, Cirebon?” tanya orang tersebut.

Waktu itu saya harus menemui Rianto, karena memang kami sudah sepakat bertemu di terminal Cikarang. Oleh sebab itu, ketika kami ditanya oleh beberapa pemuda berusia sekitar belasan tahun itu kami hanya tersenyum.

Terminal bus Cikarang terletak di jalan Fatahillah Cikarang Barat. Di terminal ini melayani bus dengan tujuan ke kota-kota pulau Jawa seperti Tegal, Purwokerto, ataupun Yogyakarta. Untuk tujuan kota di provinsi Jawa Barat tersedia trayek untuk ke Bandung, Tasikmalaya, Bogor, Sukabumi, Cirebon, dan Majalengka.
Bus P.O.Widia adalah akses terakhir untuk sampai Desa Trajaya. Cukup dengan biaya Rp25.000 dengan biaya tambahan Rp1.500 sebagai retribusi yang diberatkan kepada penumpang sudah bisa mengantarkan kami sampai terminal Rajagaluh, Majalengka. Meski ukuran bus ini hanya ¾, jarak yang ditempuh bus ini lumayan jauh, sekitar 250-300 km. Namun, calon penumpang baiknya bersabar jika memilih akses ini. Penumpang yang berdesakan, perjalanan yang panas, hingga kecepatannya yang tidak begitu cepat akan menjadi warna tersendiri selama perjalanan.

Bus P.O. Widia akan selalu berhenti di rumah makan Widia. Biasanya penumpang akan dipersilakan untuk mengisi perut untuk beberapa menit saja. Sesuai dengan nama rumah makannya, yang selalu singgah di sini adalah seluruh trayek bus Widia. Walaupun tidak menutup kemungkinan untuk angkutan lain singgah. Tak hanya rumah makan, di sekitarnya juga menjual jajanan lainnya seperti baso, soto, mie ayam, hingga penjual oleh-oleh seperti tahu Sumedang, peyeum, dan ubi bakar.

***

Pukul 17.30 (23/07) kami sampai di jalan raya Cipinang, Majalengka. Kami sengaja tidak turun sampai terminal Rajagaluh karena akan lebih jauh dari desa Trajaya. Sudah dapat dipastikan sudah tidak ada angkutan umum beroperasi, oleh karena itu ojek menjadi satu-satunya pilihan.

Rumah Wak Juhen menjadi rumah persinggahan hingga masa survei berakhir selama di desa Trajaya. Beliau memiliki hubungan kerabat dengan Rianto. Kebetulan keesokan harinya (24/07) adalah hari Senin, hari itu pada dini hari nanti seluruh penjual, pengrajin, dan pembeli anyaman boboko selalu bertemu. Aktivitas jual-beli biasa dilakukan dari pukul tiga pagi hingga subuh nanti di alun-alun desa Trajaya.

Betul saja, meski dingin yang mampu menusuk kulit tidak membuat para tengkulak dari berbagai daerah termasuk Jakarta mengurung niatnya mendapatkan anyaman bambu ini. Suasana terasa sibuk tapi tampak sunyi dan gelap. Transaksi tawar menawar memang selalu tak bisa dihindari, dan ini akan berakhir perlahan hingga matahari pelan-pelan mulai terbit.

Pada hari yang sama, kami bertemu dengan sepasang suami istri bernama Wak Sadi dan Wak Sukayati ketika sedang melihat-lihat kebun bambu di sekitar desa. Mayoritas penduduk desa Trajaya memilih membuat kerajinan boboko sebagai mata pencaharian selain bertani. Tidak terkecuali Wak Sadi dan istrinya. Untuk mempermudah pekerjaan biasanya mereka berdua saling berbagi peran.

Mereka berdua dengan ramahnya memperlihatkan bagaimana lihainya membuat boboko. Membelah bambu, meraut, hingga mengayam sudah biasa mereka lakukan ketika sedang tidak pergi ke sawah. Wak Saidi mengaku mereka hanya akan membuat anyaman hingga membentuk rangkanya saja. Untuk soko atau kaki dan wengku atau bibir bakul mereka akan membelinya pada orang lain yang memang membuat dan menjualnya untuk pengrajin. Namun, pasangan suami isrti ini tetap akan menyelesaikannya hingga akhir.

Pak Solehudin selaku Kuwu yang sedang menjabat saat itu mengamini kalau mayoritas penduduknya adalah pengrajin boboko atau bakul. Sambil mengurus perizinan untuk melakukan penelitian, Pak Solehudin menceritakan banyak hal tentang keadaan masyarakat Desa Trajaya.

Pertemuan dengan Kumu untuk Mengurus Perizinan Penelitian
Ka-Ki: Kuwu (Kepala Desa), Rianto, Agus.

“Selain membuat bakul, banyak juga yang berangkat ke luar negeri, misalnya Korea,” ujar Kuwu.
Sebagian masyarakat yang dimaksud berangkat ke luar negeri bukanlah untuk mengekspor, atau memperkenalkan kerajinan boboko. Sedihnya, mereka lebih senang menjadi TKI (Tenaga Kerja Indonesia) dari pada meneruskan tradisi keluarga sebagai pengrajin boboko. Bekerja sebagai TKI menjadi gengsi tersendiri di desa ini.

Kepala desa yang terpilih pada tanggal 23 Pebruari 2012 tidak memungkiri jika anak kandungnya sendiri juga ikut tergiur untuk pergi ke luar. Pak Solehudin sendiri adalah calon satu-satunya calon kepala desa saat dilaksanakannya Pemilihan Kepala Desa. Pak Solehudin Yogaprana terpilih sebagai Kepala Desa Trajaya Periode 2012 – 2017. Salah satu penyebab Kuwu ini menjadi calon tunggal memang orientasi masyarakat ini bukanlah pendidikan ataupun politik.

“Mereka lebih suka pegang uang dari pada jabatan,” tambah Pak Solehudin.

Fenomena ini memang sudah lama berlangsung. Biasanya yang membuat kerajinan bakul adalah orang tua yang sedia mengisi waktu luangnya untuk menganyam. Maka tak jarang rumah-rumah yang tampak baik dan bagus adalah hasil dari kiriman anaknya yang sedang berada di luar negeri sebagai TKI.

Selain bertemu dengan Wak Sadi dan Wak Sukayati, kami juga dipertemukan dengan keluarga Wak Patma. Beliau adalah tokoh yang bisa dibilang adalah orang yang memiliki etos kerja yang yang kuat dalam membuat bakul. Giginya agak hitam nampak sekali kalau beliau senang nyirih. Ditunjukannya hasil anyaman beliau. Agak berbeda, anyaman beliau ini memiliki motif yang manarik.

“Ini boboko belang,” jawabnya ketika ditanyakan perihal jenis bakul yang dibuatnya.
Boboko pada umumnya berwana cokelat bambu atau hijau. Namun, keluarga ini mampu membuatnya menjadi variasi yang unik. Harganya pun tentu lebih mahal, karena tidak semua bagian bambu bisa dicat sebagai motifnya. Prosesnya pun lebih panjang karena memerlukan waktu yang lebih untuk memberi warna pada bambu yang sudah diraut.

Hampir di sepanjang jalan dan di setiap halaman rumah warga yang nampak adalah bambu, mulai dari yang sudah diraut, dianyam, hingga sisa serbuk bambu. Ini menjadi tanda bahwa masih banyak keluarga yang masih menggantungkan harapannya terhadap kerajinan bambu.

***

Sepulang dari Majalengka, segala bentuk cerita disajikan dalam bentuk laporan kepada penulis. Mulai dari gambar, rekaman, serta catatan selama perjalan menjadi patokan untuk menjawab pertanyaan setiap penulis. Beberapa penulis semakin mantap dengan topik yang akan mereka bahas, namun ada juga yang membuat mereka semakin ragu.

“Bagaimana dengan pelestari bambu yang ada di sekitar desa?” tanya Pippi, yang bernama lengkap Fitriana Prajayanti.

Selama perjalanan survei yang dilakukan sampai tanggal 26 Juni 2012 lalu belum bisa menjawab pertanyaan Pippi. Memang tim survei kesulitan mencari pelestari bambu yang ada di desa, yang memang nyatanya tak ada perkebunan bambu yang diperuntukan sebagai bahan dasar bakul.

Inilah keuntungan melakukan pengamatan awal sebelum melakukan penelitian. Dengan keadaan seperti ini contohnya akan membuat penulis lain mengantisipasi kemungkinan yang ada, termasuk Pippi. Alternatif lain harus dipersiapkan sebelum berangkat, beruntung ia mampu berinisiatif cepat untuk menemukan solusinya. Begitu juga dengan penulis lain yang mengalami masalah yang sama ketika rencana penelitian tak sesuai dengan fakta.

Untuk topik yang akan dibahas oleh Suci mengenai proses pembuatan bakul, tim survei mengarahkannya untuk singgah di blok Sabtu. Pada survei lalu (25/07) kami menemukan sekumpulan orang dari berbagai keluarga membuat bakul bersama-sama. Di bawah balai-balai mereka berkumpul dengan tujuan penghilang rasa bosan karena mereka bisa saling berinteraksi. Mereka adalah Mak Muin, Mak Suhartini, san Mak Sapta yang sedang menganyam. Sedang yang lainnya, ada Wak Ardi dan Wak Hendri yang biasa dipanggil bang kumis membilah-bilah bambu yang akan dianyam.

Arahan terus diberikan kepada para penulis berdasarkan bekal yang dibawa dari hasil pengamatan beberapa hari sebelumnya.

Persiapan terus diperdalam hingga hari keberangkatan nanti. Termasuk mengatur anggaran, jadwal penelitian, dan perlengkapan pendukung seperti kamera, kenang-kenangan, dan berkas-berkas yang diperlukan. Dengan pedoman perjalanan lalu, saya dan Agus meraba perjalanan kembali, karena Rianto sudah lebih dahulu tiba di Trajaya.

Selasa, 03 Juli 2012, 09.00 perjalanan panjang dimulai.

***

Setiap malam setelah melakukan liputan, setiap penulis mengevaluasi kembali hasil penelitiannya. Saran dan masukan terus bergulir. Satu per satu dari penulis sudah mulai membangun kedekatan emosi dengan calon narasumber. Beruntung, penulis dan narasumber memiliki antusias yang sama dalam penelitian kali ini. Setiap kata adalah fakta. Oleh karena itu narasumber adalah bagian penting dalam penelitian kali ini.

Evaluasi yang Dilakukan di Balai Desa
Doc. LKM UNJ 2012


Tanpa disadari, dengan konsep penelitian seperti ini beberapa kali mengalami hambatan. Khambali dan Pria menemukan narasumber yang sama. Dan keduanya memiliki nilai krusial bagi keduanya. Ini menjadi kesulitan sendiri bagi penulis. Setiap penulis dituntut memiliki variasi dalam setiap tulisannya.

Selain itu faktor bahasa. Majalengka sendiri terletak di provinsi Jawa Barat. Kabupaten ini Kabupaten ini berbatasan sebelah utara dengan Kabupaten Indramayu, sebelah timur dengan Kabupaten Cirebon dan Kabupaten Kuningan, di sebelah selatan Kabupaten Ciamis dan Kabupaten Tasikmalaya, serta di sebelah barat Kabupaten Sumedang. Dengan letak geografis seperti ini, sudah dipastikan bahasa sehari-hari mereka adalah bahasa Sunda. Beberapa penulis sulit berkomunikasi dengan narasumber. Masalah ini sedikit teratasi karena Ida dan Nada mampu menerjemahkan maksud narasumber.

Agus yang sudah lebih awal mengenal desa Trajaya pun tak luput dari rintangan dalam melakukan liputan. Hampir berkahir masa penelitian, kegundahan terus melandanya.

“Sudah hari ketiga, belum juga dapat narasumber!” ketus Agus malam itu.

Agus memang sudah memegang kontak untuk berkomunikasi dengan narasumber. Hampir setiap pagi Agus harus menunggui mobil-mobil pembawa bambu yang akan menjualnya pada pengrajin. Hingga hari ketiga hasilnya nihil.

“Besok harus lebih pagi!” tekadnya.

Lain Agus, lain lagi dengan Tia. Wanita berkulit sawo matang ini sangat sulit berbicara dengan bahasa daerah tersebut yang masih sangat kental. Tak jarang sepulang liputan ia belum puas dalam memaksimalkan liputan dari narasumbernnya.

Sebelumnya Suci diprediksi akan dipermudah dengan bekal yang dibawa tim survei. Namun ketika di lapangan sulit sekali menemukan suasana pengrajin bakul yang sedang berkumpul.

“Masyarakat sini sedang musim panen, sedang tidak intens di rumah untuk buat bakul,” ujarnya.

Malam itu menjadi malam genting karena harus melengkapi data yang belum lengkap. Belum lagi lampu padam malam itu. Nasib baiknya, malam itu adalah hari kamis di mana ada hiburan yang ramai di alun-alun sejak sore.

“Di sini biasanya ada Pasar Malam setiap Kamis malam, nanti ikut yuk!” ajak teh Uci suatu hari.

Di bawah remang-remang kami duduk di depan Posyandu yang ada di sekitar alun-alun desa. Semua masyarakat desa berkumpul ramai sekali sampai malam mulai larut. Mulai jajanan pasar, barang kebutuhan sehari-hari, hingga hiburan untuk anak-anak seperti pasar tumpah. Masyarakat dari sekitar desa akan berbondong-bondong datang ke alun-alun. Karena lampu padam, perangkat desa mengantisipasinya dengan pengoperasian generator. Sehingga lampu pedagang masih dapat berkerlap-kerlip.

Kami menikmati malam itu. Kami juga menikmati diskusi yang berjalan meski lampu padam.

***

Hari kelima sudah sepatutnya kami merayakan berakhirnya penelitian di desa ini. Objek wisata Makam Prabu Siliwangi dan Situ Cipadung menjadi tujuan untuk melepas penat selama beberapa hari terkahir untuk liputan. Kawasan Cipadung ini terletak di Desa Pajajar Kecamatan Rajagaluh, Kabupaten Majalengka. Seketika saja suasana menjadi meriah mengakhiri perjalanan panjang ini dengan didominasi dari kami mengenakan baju berwarna merah.

Mobil pick-up yang disediakan Pa Syafa’at turut melengkapi akhir perjalanan panjang Kreatis tahun ini. Jalan berliku, angin yang berhembus semilir menjadi khas jalur pegunungan. Ada perasaan lega atas berakhirnya tugas liputan ada pula rasa rindu dengan udara segar yang jarang didapati di ibu kota.
Kawasan Cipadung dan Makam Prabu Siliwangi ini berada dalam satu area.

Di area ini banyak pohon tua yang rindang dan teduh tertata rapi dengan di sekitarnya genangan air seperti kolam-kolam besar yang masih bening. Di dalam kolam tersebut terdapat berbagai macam jenis ikan yang mitosnya tak boleh ditangkap maupun dipancing. Pada bagian tengah kolam tersebut ada sebuah patung ikan lumba-lumba yang mengeluarkan air dari mulutnya.

Sesekali akan tampak kera yang berkeliaran sekitar area Cipadung. Bukan hanya manusia yang nyaman berkunjung, ribuan kelelwar pun akan sangat mudah dijumpai di area ini. Struktur batu berukuran variasi dari yang kecil hingga besar menjadi tempat yang nyaman untuk sekedar duduk sambil beristirahat.
Tak sedikit dari kami yang terus saja berdecak kagum.

Setiba dari Cipadung ke rumah mamih kembali, kami bergegas pulang ke Jakarta. Tuan rumah memperhatikan kami yang berkemas. Mungkin ada perasaan hilang. Sesekali mereka bergurau untuk sekedar menunda kepulangan kami.

Barang bawaan bertambah jumlahnya. Hampir setiap dari penulis berhasil membangun kedekatan emosi dengan narasumber. Tak jarang masyarakat Trajaya menitipkan buah tangan untuk sekedar kenang-kenangan dari mereka. Pisang kapok, rengginang, kue basah, dodol, hingga anyaman bakul pun bisa dibawa pulang ke Jakarta.

Suasana mendadak haru.

“Lebaran nanti main ke sini lagi ya,” tutup Mamih melepas kepergian kami.

(LH)

No comments:

Post a Comment